TAK PUNYA BIAYA, SUDIRAN PASRAH MELIHAT KONDISI ISTRINYA YANG SEMAKIN MEMBURUK

Sudiran (60) dan Margiyani (54) warga RT 02 / RW 04 Dukuh Nglawiyan Kelurahan Karangjati-Blora, sepasang suami istri hidup dibawah garis kemiskinan tinggal dalam bangunan berukuran 3×5 meter, selain ruangannya yang sempit rumah tersebut juga tidak dilengkapi ruang tamu bahkan amben atau tempat tidur yang layakpun tidak ada, kasur yang sudah terlihat kusam beralaskan tanah menjadi tempat ternyaman bagi pasangan tersebut untuk beristirahat. Kondisi ini diperparah dengan penyakit komplikasi yang diderita Margiyani sehingga harus cuci darah dua kali dalam seminggu.

“Sudah dua tahun ini istri saya (Margiyani, red) sakit-sakitan Mas? Komplikasi jantung, paru-paru, asam urat, sehingga harus cuci darah dua kali dalam seminggu di RSI Lasem”, Ungkap Sudiran dengan nada sedih (4/6) lalu.

Sudiran yang hanya berpenghasilan dari hasil kuli bangunan tersebut harus berji baku menyangga beban hidup, apalagi dengan kondisi pandemi seperti sekarang, pria paruh baya tersebut sudah tidak bekerja mengingat proyek tempat Sudiran bekerja sudah mandeg. Bahkan untuk biaya berobat, untuk makan sehari-hari pasangan suami istri tersebut masih kesulitan.

” Kalau berobatnya gratis Mas, kami dapat program dari Pak Jokowi. Yang membutuhkan biaya itu transportasi ke RSI Lasem-Rembang Mas, biasanya kami berangkat berobat menggunakan sepeda motor Mas, karena cuma itu satu-satunya harta yang kami miliki. Itupun kadang macet ditengah jalan karena memang mesin motornya sudah renta, sekarang hanya bisa pasrah Mas? sudah tidak punya biaya lagi untuk berobat karena sudah tidak bekerja”, imbuh Sudiran dengan wajah sedihnya.

Ditanya kenapa tidak berobat di Blora saja Sudiran menjawab, ” dulu sudah pernah berobat di RSUD Blora lalu dirujuk di Rumah Sakit Sultan Agung Semarang. Setelah diperbolehkan pulang dari RS Sultan Agung Semarang pernah sekali cuci darah RSUD Blora namun disarankan dari pihak RSUD untuk berobat di RSI Lasem-Rembang “, Jawab Sudiran.

Sungguh memilukan, dengan kondisi Margiyani yang tidak berdaya dipaksa harus mondar-mandir berobat dari Blora ke Rembang dan meski tergolong tidak mampu namun keluarga tersebut mengaku tidak terdaftar sebagai anggota PKH (Program Keluarga Harapan).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *