PELUANG DARI BISNIS MINYAK JELANTAH

Minyak jelantah atau minyak goreng bekas pakai bisa menjadi peluang bisnis bagi masyarakat di tengah kondisi perekonomian yang tidak stabil akibat pandemi Covid-19. Minyak jelantah dapat dijadikan bahan baku pembuatan bahan bakar biodiesel secara komersil.

Potensi besar ini dipetakan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dalam memenuhi kebutuhan pemanfaatan B30. Secara teknis, B30 adalah komposisi campuran biosolar yang digunakan oleh konsumen di Indonesia.

Subkoordinator Keteknikan Bioenergi Kementerian ESDM Hudha Wijayanto mengungkapkan, ada dua prinsip utama yang harus dipenuhi apabila menjadikan jelantah sebagai bahan baku biodiesel. Pertama, kualitas minyak jelantah harus mencapai standar spesifikasi biodiesel. Kedua, punya nilai keekonomian tinggi dan dapat diimplementasikan.

“Jika kedua prinsip tersebut bisa dipenuhi oleh biodiesel dari jelantah, maka potensi jelantah sebesar 3 juta kiloliter per tahun akan dapat memenuhi 32 persen kebutuhan biodiesel nasional,” kata Hudha melalui keterangan resmi, dikutip Senin (19/4).

Sementara, Engagement Unit Manager Traction Energy Asia Ricky Amukti menegaskan keberadaan minyak jelantah sebagai bahan bakar biodiesel memberikan dampak positif bagi lingkungan dan kesehatan.

“Minyak jelantah yang dibuang sembarangan akan berpengaruh langsung terhadap lingkungan hidup. Jika menumpuk di selokan, akan menimbulkan bau dan air selokan jadi kotor. Jika terserap di tanah, kualitas tanah akan menurun,” ungkapnya.

Ricky menambahkan penggunaan biodiesel dari minyak jelantah ini akan menekan jumlah emisi karbon. Berdasarkan analisa Kementerian ESDM, biodisel sendiri berpotensi mengurangi 91,7 persen emisi karbon dibandingkan solar.

“Jika memanfaatkan jelantah, kita tak perlu mengganti hutan dengan perkebunan kelapa sawit, yang justru berpotensi meningkatkan emisi karbon,” tuturnya.

Melihat potensi besar tersebut, peluang ini ditangkap oleh Andi Hilmi, 21 tahun, pemilik usaha biodiesel berskala industri “GenOil” di Makassar. Dalam satu bulan ia bisa meraih omzet sekitar Rp 200 juta.

“Ketika itu kami mengembangkan puluhan diversifikasi energi. Namun, yang paling ideal adalah biodiesel,” katanya.

Mereka pun memberikan beberapa kiat penting agar dalam bisnis minyak jelantah dapat berjalan mulus, di antaranya :

Pertama, pastikan ada kebutuhan
Berawal dari kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) sehingga mengakibatkan para nelayan di Makassar tak bisa melaut, Andi pun mulai mencari solusi untuk menggantikan BBM dengan biodiesel dari minyak jelantah.

“Saya berusaha mencari pengganti energi terbarukan agar bisa digunakan oleh para nelayan. Ketika itu, biodiesel bisa menjawab masalah kelangkaan bahan bakar yang mengancam kedaulatan energi di masa mendatang,” kata Andi.

Kedua, jalin jejaring

Mengikuti organisasi seperti Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) akan lebih memudahkan dalam mencari teman-teman yang memiliki visi serupa.

Jejaring ini dimanfaatakan betul oleh Andi setelah mengikuti kompetisi berbagai forum di tingkat nasional dan internasional. Bahkan tak sedikit yang menawarkan berbagai bentuk kerja sama dari jejaring tersebut.

Sementara itu, Traction Energy Asia yang juga telah menginisiasi adanya Asosiasi Pengelola Minyak Jelantah menyebutkan langkah ini diperlukan untuk mendorong advokasi kebijakan agar minyak jelantah diatur oleh regulasi.

“Hampir semua merespons positif. Ke depannya kami akan mengadakan kongres dan deklarasi,” kata Ricky.

Ketiga, berpikir inovatif

Bagi Andi dan Ricky, meski sangat menjanjikan, bisnis pengolahan jelantah jadi biodiesel masih memiliki banyak tantangan, antara lain dalam teknologi pengolahan dan proses pengumpulan minyak jelantah.

Untuk mengumpulkan pasokan minyak, Andi membuat bank minyak jelantah RT/RW dengan fasilitas seperti check point dan jerigen. Dengan cara ini dia dapat mengintegrasikan satu kota. Namun, untuk membuat bank minyak jelantah yang ideal, diperlukan biaya tidak sedikit. Oleh karena itu Andi mengajak perusahaan besar untuk bekerja sama membuat bank minyak jelantah melalui program CSR.

Keempat, jangan bosan mengedukasi
Berdasarkan penelitian, dari 16,2 juta kiloliter konsumsi minyak jelantah hanya 3 juta kiloliter minyak jelantah yang mampu dikumpulkan di 2019, dan 2,43 juta kiloliter di antaranya didaur ulang untuk dikonsumsi kembali.

Edukasi soal bahaya minyak goreng daur ulang inilah yang dilakukan oleh Andi dan timnya. Ketika memasak, sebetulnya hanya 30 persen minyak goreng yang terserap, sisanya menjadi limbah.

Andi juga mengedukasi nelayan yang awalnya enggan menggunakan biodiesel karena warnanya berbeda dari solar, sehingga mereka khawatir kapal jadi rusak. Andi memastikan, selain harganya lebih murah daripada solar, biodiesel juga tidak akan merusak mesin kapal.

Lima, libatkan masyarakat sekitar
Ricky menyebutkan, sejumlah pengusaha biodiesel di berbagai kota mempekerjakan masyarakat lokal untuk mengolah dan menjual produk olahan jelantah. Karena itu ia melihat usaha ini mampu menyerap banyak tenaga kerja.

Sumber: Kerjha,com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *